Enjoy Life Like A Game

11.07



Menasehati orang lain untuk menikmati hidup, memang mudah. Tapi sebetulnya, terkadang sulit bagi kita sendiri untuk menikmati hidup. Entahlah. Usai datang satu kebahagiaan, nanti akan datang pula cobaan. Begitu seterusnya. Atau apabila satu hal telah kita capai, rasanya ada hal lain yang kemudian menunggu untuk diselesaikan.

Pola seperti ini tak jarang ditemukan pada individu yang hidup di kota-kota besar. Seolah hidup tidak ada puasnya, masalah selalu saja datang bergantian dari berbagai penjuru. Lalu kapan waktu yang tepat untuk menikmati hidup? Dengan cara apa? Mengecap hidup tidaklah akan pernah mudah, tanpa mengubah pikiran Anda terlebih dahulu

Hidup adalah permainan

Ini bukan tentang bermain-main dengan hidup. Tapi pernahkah Anda bermain life-simulation game, semacam The Sims, atau Virtual Villagers? Dalam permainan-permainan tersebut, Anda dibawa menuju kehidupan virtual yang punya dua hal serupa dengan kehidupan nyata: waktu dan masalah. Waktu terus berjalan, dan tugas-tugas bergantian menghampiri untuk diselesaikan. Kapan batas akhirnya? Tidak ada pemain yang tahu. Seperti hidup saja, di mana kita tidak tahu kapan akan berakhir.

Dan banyak orang yang kemudian ketagihan dengan permainan semacam itu. Lucunya, permainan padahal merupakan salah satu cara untuk melarikan diri dari kehidupan nyata. Tapi toh mereka melarikan diri pada sesuatu yang mirip dengan kehidupan sebenarnya. Pada akhirnya, kemuakkan akan hidup sebetulnya bukan karena hidup itu membosankan. Tapi karena persepsi. Persepsi manusia bahwa dialah yang dipermainkan oleh hidup.

Mengubah Persepsi, Memainkan Pion

Game menjadi hal yang menyenangkan karena pemain merasa punya kontrol di dalamnya. Terlebih dalam permainan semacam The Sims. Manusia merasa punya kontrol terhadap suatu tokoh, merasa seperti Tuhan, ibaratnya. Padahal kalau dipikir, dia tidak punya kontrol penuh atas permainan itu sendiri.

Hidup pun juga begitu. Hanya saja, karena kita menghadapi sendiri hidup tersebut, maka kita merasa seperti pion dan bukannya penggerak pion. Maka dari itu, mengapa tidak membayangkan tubuh kita sebagai pion, dan otak kita sebagai penggerak? Mengapa juga tidak membayangkan masalah sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan, untuk mencapai level yang lebih tinggi, seperti di dalam game?

Kita merasa jenuh pada hidup karena merasa bahwa hidup adalah sebuah paksaan, di mana kita tidak bisa memilah hal-hal yang akan kita hadapi. Kita terlalu berfokus pada diri kita sendiri dan melupakan hal menyenangkan dalam hidup yang memacu adrenalin. Kita selalu berfokus pada kemapanan dan bukan proses. Padahal ketika kita bermain game, kita juga berfokus pada proses. Itulah yang membuat game menjadi menyenangkan.

Jadi, mengapa kita tidak segera menganggap hidup sebagai sebuah permainan?

Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe