What We Leave When We Die

18.01

Ada sebuah pepatah yang mengatakan "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama". Yang berarti bahwa setelah kita mati nanti, siapa dan apa yang selama ini kita lakukanlah, yang akan terus hidup dalam ingatan banyak (mungkin sampai beberapa generasi, kalau nama kita cukup tenar untuk dikenang).

Tapi sebetulnya, beberapa orang tak sekadar meninggalkan nama. Ada yang meninggalkan sejumlah uang. Ada pula yang beserta harta kekayaan lain seperti properti atau kendaraan. Dan biasanya, keturunan serta beberapa sanak saudaralah yang berhak menerima hal yang disebut warisan tersebut.

Hanya saja, meskipun biasanya sudah ada wasiat yang mengatur tentang hal ini, tetap saja warisan seringkali menjadi penyebab terbesar keributan antar anggota keluarga. Mungkin ada pihak-pihak yang tidak terima dengan peraturan warisan, dan meminta lebih. Atau merasa pembagian warisan tidak jelas dan dimanipulasi. Hal semacam itu bukan hal yang baru. Bahkan sepertinya, sering terjadi, terutama dalam keluarga yang memiliki anak cukup banyak.

Walaupun memang kalau diingat lagi, rasanya miris. Ketika seseorang yang kita cintai tak lagi ada, tak seharusnya kita meributkan sesuatu yang dulu pernah menjadi miliknya, untuk kita miliki. Seperti misalnya pada kematian Ayah dan Nenek saya. Tidak ada di antara kami, para saudara yang lantas bertengkar perihal peninggalan mereka berdua. Termasuk rumah peninggalan. Entahlah, keluarga saya berpikir kalau yang sudah tiada, biarlah dikenang secara baik-baik, dan biarlah segala hal tentangnya, diteruskan menjadi hal-hal yang bermanfaat di dunia. Mungkin untuk anggota keluarga yang tidak mampu. Atau untuk keperluan lain, yang sama sekali tidak menimbulkan perdebatan. Saya pun berpikir begitu. Harta itu penting. Tapi mempereburkan harta peninggalan orang-orang terkasih, hanya akan mengecilkan makna mereka. Kita sudah merelakannya. Mengapa tidak bisa merelakan yang pernah jadi milik mereka?

Untuk itu, jujur saya heran ketika membaca berita perihal kemungkinan harta yang dimiliki oleh Bobbi Kristina Brown, anak Whitney Houston yang meninggal secara misterius beberapa waktu lalu, dan probabilitas kalau harta itu akan diperebutkan. Saya tidak pernah habis berpikir. Kalau memang kita mencintai seseorang, dan kita tidak sedang dalam kondisi kekurangan, mengapa kita harus memperebutkan hartanya? Seolah hal itu menandakan bahwa kematian orang terkasih adalah hal yang kita ingjnkan, agar kita dapat menikmati hartanya tanpa lagi ada batasan dari dia. Ataukah mungkin dalam hal ini, saya yang naif? Mungkin sekadar kenangan tak cukup manis ya, untuk jadi peninggalan.

Entahlah. Mungkin benar memang kalau menyangkut keluarga, saya yang terlampau naif.

Foto: Egon Schiele (egonschiele.tumblr.com)

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe