Tiga Alasan Untuk Mencintai Lolita

20.19



Membicarakan Lolita, sebetulnya bukan sekadar membicarakan Eros. Walaupun novel karya Vladimir Nabokov ini bercerita tentang cinta seorang profesor berusia matang, Humbert Humbert, empat puluh tahun lebih,kepada anak tirinya yang bernama Dolores Haze. Pedofilia? Gairah seorang psikopat? Kelihatannya memang begitu. Nyatanya tak hanya semacam itu. Seperti pengakuan Humbert kalau nyatanya tak bakal ada Lolita tanpa trauma masa kecilnya. Semua hal memiliki latarnya masing-masing.

Novel Lolita sendiri pernah dilarang beredar di Amerika Serikat, lantaran dianggap sebagai pembelaan atas tindakan Pedofil. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya novel ini pun tak hanya dapat diterima oleh masyarakat,  tetapi juga menjadi salah satu karya sastra terbesar dengan rangkaian diksi yang indah dan kaya.

Anggapan itu toh pada akhirnya tak berlebihan, karena memang Lolita adalah sebuah karya seni yang menawan. Melalui Lolita, Nabokov menuliskan hasrat seorang pecinta -tak sekadar Pedofil- , dengan menyelami ceruk-ceruk hati Humbert Humbert. Dan tentunya, ada beberapa alasan lain mengapa novel Lolita dapat disebut indah.

1. Nymphet, Peri Asmara
Nymphet, dalam mitologi Yunani, adalah nama dari peri-peri yang biasa menghuni hutan dan danau sunyi. Wujudnya cantik dan mungil. Dan begitulah Lolita bagi Humbert. Sebutan itu tidaklah menjadi sesuatu yang berlebihan, karena Lolita memang digambarkan bak peri: kecil, menyenangkan, riang gembira, menghipnotis, dan lugu. Bak mencicipi sekotak permen. Sebuah bentuk kecantikan yang klasik dan menggemaskan, tak melulu menyoal tubuh

Dan adakah yang bisa menganalogikan dengan cara indah layaknya Humbert Humbert?

2. Diksi yang kaya dan matang.

Cerita cinta yang janggal memang bukan hal baru. Tapi mengapa Lolita menjadi salah satu yang dikenang, itu bukan sekadar karena ceritanya. Namun lantaran penggunaan diksi yang kaya dan matang. Diksi-diksi Nabokov seolah seperti masuk menembus ruang-ruang pikiran Humbert, mengkonversi pikiran-pikiran tersebut menjadi sebuah senin nan indah, bagai menari dan berirama.

Dia adalah Lo. Lo yang tampak sederhana di pagi hari, dengan tingginya seratus lima puluh senti, mengenakan kaus kaki sebelah. Dia adalah Lola, saat mengenakan celana panjang longgar. Saat di sekolah, dia adalah Dolly. Dalam dokumen resmi dia adalah Dolores. Namun dalam pelukanku dia selalu menjadi Lolita. 

Meskipun memang, diksi Nabokov membuat Humbert seperti seorang pecinta yang terkena erotomania, kelewat obsesif, dan egois. Segala kucuran perasaan hati Humbert lewat kata-kata tak menyisakan ruang untuk cerita Lolita dan tokoh lain. Segalanya hanya seperti melekat saja pada cinta besarnya kepada Lolita. Tapi toh memang cerita dengan sudut pandang orang pertama selalu seperti itu. Kelewat egois. Tinggal bagaimana keegoisan itu dapat disusun menjadi indah.

3. Bukan Sekadar Pedofil
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Lolita memang cerita tentang pengakuan seorang pedofil. Tetapi pada akhirnya, sang tokoh dibuat menyadari kalau dia bukan sepenuhnya pedofil. Usai perjalanan menyusuri Amerika, Lolita yang jatuh cinta dengan guru teaternya kabur, membuat Humbert Humbert patah hati. Mencari Lolita ke mana-mana dengan pengumuman bak puisi, 'Lolita, dicari-dicari!'

Pertemuan mereka pada akhirnya terjadi ketika Lolita, sang nymphet, peri asmara, telah beranjak dewasa dan hamil tua. Mengirimkan surat kepada Humbert untuk meminta uang, karena ia dan suaminya bangkrut, butuh biaya untuk imigrasi. Toh pada akhirnya, tanpa syarat, Humbert memberikan uang lebih dari sekadar yang diminta Lolita. Dan perasaannya kepada Lolita tak berubah. Meskipun Lolita bukan lagi gadis kecil yang menjadi kegemaran para pedofil. Bahkan setelah itu, ia membunuh guru teater yang mematahkan hati peri asmaranya. Menghabiskan waktu di jeruji penjara.



Ada sebuah kabar yang beredar bahwa Lolita sebetulnya adalah otobiografi Nabokov. Percaya atau tidak, tetapi hal tersebut memang sulit untuk dianggap mitos belaka. Pasalnya, Lolita terbaca betul-betul seperti sebuah pengakuan yang jujur. Dan apabila memang Lolita hanyalah karangan belaka, tepuk tangan panjang pantas diberikan kepada Nabokov, untuk imajinasi yang begitu indah dan liar.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe