Somebody Skeptical In A Big City

08:16



Kemarin, saya mulai menyadari satu hal: entah saya semakin nyinyir, atau semakin skeptis. Ini terjadi usai saya pergi ke gedung DPR untuk urusan pekerjaan (tapi saya bukan anggota DPR, i wish i was one of them so i can be rich but i am not). Tapi tenang saja, saya tidak akan membahas masalah mobil-mobil wakil rakyat yang mewah atau anggota DPR yang tidur waktu rapat. I don't fucking care. Karena mereka kaya atau tidak, itu bukan urusan saya.

Ceritanya, saya sempat bertemu dengan dua orang yang membawa map. Tapi jangan bayangkan mereka seperti pejabat atau eksekutif muda. Keduanya seperti orang yang baru turun dari angkutan umum, dan di gurat wajah mereka terlihat sekali nuansa kelelahan. Kepada saya dan rekan saya, mereka berdua bertanya: saya mau mencari Pak Fadli Zon (dan satu anggota DPR lain, saya lupa namanya) harus ke mana ya?

Satu hal yang muncul di benak saya waktu itu: gemas.

Saya tahu, harusnya mungkin saya merasa kasihan kepada mereka. Kalau dilihat-lihat, sepertinya mereka mau menyampaikan aspirasi. Atau bagaimana. Tidak terlihat kalau mereka kenal betul sama anggota DPR yang mereka sebutkan. Tapi entah kenapa, saya tidak bisa merasa kasihan. Yang ada hanya rasa sebal. Ingin rasanya saya berkata "Aduh Pak udah deh, mending pulang. Wakil rakyat mah namanya doang. Tetep aja kalau mau ketemu birokrasinya rumit"

Saya tidak tahu saya yang skeptis dan nyinyir, atau banyak orang kelewat lugu di sekitar saya. Jujur semakin beranjak dewasa, saya semakin banyak tahu dan hal itu membuat rasa simpatik saya terhadap banyak hal luntur. Pun optimisme. Mungkin, kalau memang mau menyampaikan aspirasi, sudah seharusnya saya, merasa kasihan dan optimistis kalau aspirasi mereka bisa tersampaikan. Nyatanya saya skeptis dan kesal. Kesal karena banyak orang yang kelewat polos. Kesal karena banyak orang yang tidak tahu kalau banyak fungsi-fungsi di dunia yang tidak berjalan semestinya. Ya, contohnya, masalah anggota DPR.

Yang menurut saya, tidak ada bedanya dengan kalau saya ke kantor polisi melaporkan barang hilang. Barang tersebut tak akan pernah lagi kembali ke tangan saya. Meskipun secara umum, ada pemahaman kalau polisi bisa menemukan barang yang hilang sama seperti mereka bisa menemukan tersangka pembunuhan. Nyatanya, mereka toh tidak berfungsi semestinya. Dan kalau ada orang yang mempertanyakan, orang itu pasti akan dianggap bodoh. Ya jelas, polisi mana mau menghabiskan waktu mengurusi sesuatu yang kecil.

Entahlah. Tapi memang kehidupan kota besar bisa membebaskan sekaligus membutakan. Membebaskan dari pikiran-pikiran polos, tapi juga membutakan nurani. Dan ya, ini adalah kali pertama saya berbicara tentang nurani.

Sumber foto: theodysseyonline.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe