Pertanyaan Socrates

14.11



Sebuah kesalahan besar apabila kita menganggap bahwa pertanyaan hanya dapat dijawab dengan jawaban.  Socrates, salah satu filsuf Yunani,  justru senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan, termasuk pertanyaan muridnya, Plato, dengan pertanyaan lain. Pertanyaan lain pun akan dijawab dengan pernyataan lain. Seolah kita seperti mengupas bawang yang berlapis-lapis.

Meskipun hal tersebut terdengar menyebalkan, tetapi sebetulnya, pertanyaanlah yang membuat kita kritis dan menjadi manusia sesungguhnya. Dengan bertanya, kita akan mencari jawaban. Ketika satu jawaban muncul, dari jawaban itu bisa kita temukan pertanyaan-pertanyaan lain. Lalu kita akan mencari lagi. Pencarian tanpa henti akan bermuara pada kebenaran. Jadi tak salah kalau pertanyaan adalah kunci menuju kebenaran. Tanpa pertanyaan, tidak akan ada penemuan, tidak akan ada pembaharuan.

Masalahnya adalah, kini timbul pertanyaan yang tak butuh jawaban apalagi melahirkan pertanyaan baru. Namanya retoris. Majas yang berarti kalimat tanya tanpa jawaban. Dan bagaimanakah sebuah pertanyaan tak perlu jawaban? Ini bukan lagi hal yang mengherankan. Yang semacam ini bahkan bisa kita temukan di mana saja. Termasuk dalam pidato yang dapat ditemui dalam upacara-upacara 17 Agustus.  Misalnya seperti pertanyaan "Bukankah kita harus menjaga kedaulatan negeri ini?" atau, "Haruskah kita mewarnai kemerdekaan ini dengan perpecahan?", "Siapa lagi yang dapat mewujudkan kesejahteraan Indonesia kalau bukan kita?"atau turunan kalimat kalimat semacam itu yang biasanya dihubungkan dengan instansi tempat upacara dilakukan.

Saya tidak tahu mengapa pidato harus penuh dengan pertanyaan-pertanyaan retoris. Dan saya sekarang jadi bingung, untuk apa ada pertanyaan dalam pidato, kalau pertanyaan tersebut tak perlu dijawab, dan sangat klise? Seperti dalam momen 17 Agustus ini. Semua pidato punya makna kebanggaan atas negeri. Pertanyaan retoris pun sangat membangga-banggakan negeri ini. Pertanyaan yang, dalam benak para peserta upacara, tak melahirkan pencarian. Seolah berhenti begitu saja di tempat, sebagai sebuah perayaan semata.

Ataukah mungkin, pidato memang bukan ruang untuk melahirkan pencarian?

Sumber: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe