Menyebalkannya Jakarta

14.40



Tahun ini adalah tahun kelima semenjak saya pindah ke Jakarta, dan saya rasa, saya jatuh cinta dengan daerah ini. Daerah ini, seperti toko serba ada, dan di dalamnya bisa saya temukan apa saja, dalam jumlah yang besar, termasuk kesempatan. Kalau dulu saya tidak memutuskan untuk pindah ke Jakarta, mungkin saya tidak akan menjadi seseorang seperti ini, dan saya tidak akan berkenalan dengan orang-orang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Namun rasanya sangat munafik kalau saya bilang, saya tidak kesal dengan Jakarta. Sering sekali. Banyak hal di kota ini yang membuat saya naik pitam. Bukan kejadian yang besar atau disastrous, tapi hal-hal remeh seperti yang seringkali saya temui di dalam kendaraan umum, atau di tengah aktifitas sehari-hari. Saya tidak tahu apakah saya berlebihan, tapi mungkinkah Anda, warga Jakarta lain, juga merasakan hal yang sama dengan saya?

1. Macet
Mungkin hal ini sudah biasa dan banal. Jelas, dengan luas wilayah sekitar 660 meter persegi (sudah termasuk wilayah laut), dan jumlah penduduk yang mencapai angka 10 juta (tahun 2014), Jakarta menjadi sebuah wilayah yang sangat padat.

Kemacetan ini, bukan cuma terjadi di jalan raya. Tetapi juga di rel kereta. Yap. Kereta listrik (KRL) atau commuter line, selalu padat pada jam-jam sibuk (jam 6 pagi dan jam 5 sore). Saking padatnya, untuk bergerak di dalam pun tidak bisa. Dan yang lebih menyebalkan adalah, ketika KRL harus tertahan sinyal masuk di beberapa stasiun. Biasanya sih, di Stasiun Gambir, Manggarai, atau Jatinegara, karena rel digunakan bersama dengan kereta jarak jauh. Bagaimanakah perasaan Anda, berdiri terhimpit orang-orang yang berkeringat, dan menunggu KRL yang tidak kunjung jalan? Lebih dari gemas tentunya.

2. Kasar dan cuek
Tidak semua orang di Jakarta kasar. Tapi kehidupan yang keras dan padat, jelas mengubah watak seseorang menjadi kasar. Ketika saya hidup di Semarang, saya sering  sekali mendapatkan pertolongan dari orang yang tidak saya kenal. Setidaknya, kalau saya sedang tersesat. Tapi di Jakarta, jarang sekali orang mau membantu saya. Ini juga terjadi di kendaraan umum seperti KRL. Saya pernah naik KRL dalam keadaan sakit panas, menggigil dan pucat. Semua orang yang punya mata jelas tahu saya menggigil. Tapi tidak ada satupun yang memberikan saya tempat duduk. Padahal, saya berada di gerbong biasa, dan bukan gerbong khusus wanita.

Mungkin kalau saat itu saya baru pindah dari Semarang, saya akan merasa kalau mereka betul-betul tidak punya hati. Tapi mengingat saya tidak masuk dalam daftar orang yang pantas mendapatkan kursi prioritas, ya mau bagaimana lagi?

Kejadian lain adalah ketika saya tengah naik angkot. Sudah biasa kalau supir angkot suka menyuruh penumpang untuk menempati bangku paling belakang. Tapi waktu itu, seorang Ibu baru akan masuk angkot dan supir angkot tetap memaksa saya untuk secepatnya pindah. Berteriak dengan kasar. Emosi, saya pun membentak dia. Well, pada saat membentak, jujur saya sadar, alasan mengapa banyak warga Jakarta yang terlihat keras. Karena, sulit untuk hidup di Jakarta dengan kelembutan. If you have decided to move here, it means you're ready to join "The Hunger Game"

3. Harga yang Selangit
Tadinya, saya pikir semahal-mahalnya harga di Jakarta, masih lebih murah ketimbang harga di negara lain seperti Singapura atau Jepang. Ya jelas, tapi kalau dibandingkan dengan Semarang, Jogja, apalagi kota-kota kecil lain, harga di Jakarta memang membuat kepala mudah pusing. Memang sih, UMR (Upah Minimum Regional) di Jakarta lebih tinggi daripada di kota lain. Tapi tetap saja, jalanan yang sibuk, jarak yang jauh dari satu tempat ke tempat lain yang harus ditempuh dengan transportasi umum, belum lagi aktifitas padat, membuat kita harus merogoh kocek lebih dalam. Makanya saya suka kalau saat liputan, saya dapat gratisan makan/nasi box. Sungguh, hal itu sangat berarti dalam menekan pengeluaran saya.

4. Preman
Preman ini tidak hanya bisa ditemui di tempat semacam Senen. Saya rasa, di tiap pengkolan, selalu ada preman. Dan preman ini tidak selalu berbadan kekar atau bertato. Ada yang badannya kecil tapi suaranya lantang dan bawa senjata.

Menyebalkannya, di pangkalan-pangkalan ojek kini hadir preman semacam itu. Preman ini tidak hanya main gaple atau menggosok batu akik. Sekarang, mereka juga suka mengganggu Gojek. Yap, sudah tahu kan kalau Gojek dimusuhi di mana-mana karena dianggap mengganggu mata pencaharian tukang ojek biasa? Dan preman, yang mengaku sebagai humas-nya tukang ojek, kini suka main hakim sendiri. Tidak hanya Gojek saja yang mereka serang. Pelanggan yang suka memesan Gojek pun juga kena sasaran kemarahan mereka yang tidak berdasar.

Padahal sih, kalau otak mereka dipakai, ya kenapa tidak bergabung saja dengan perusahaan itu? Toh syaratnya juga mudah. Well, tapi memang ada orang-orang yang hobinya hanya cari ribut.

Selain mengganggu, preman juga suka bereksistensi dalam bentuk pengamen di kendaraan umun. Mereka sih, ngakunya cari uang. Padahal malak. Saya jujur bukannya pelit. Tapi percuma memberi uang yang nantinya dipakai hanya untuk mabuk-mabukan saja.

Beberapa hal itu, jujur kadang membuat saya kangen kampung halaman. Tapi tiap kali saya pulang, saya selalu rindu kembalk dengan Jakarta. Mungkin benar kalau ada orang yang bilang, kalau sudah terlanjur hidup di Jakarta, hidup di kota lain di Indonesia rasanya sunyi. Seperti ada yang kosong. Looks like i'm having a S&M relationship with this city and i do love it anyway.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe