Karyawan Serba Bisa, Atau Sangat Bisa?

21.18



Banyak orang yang berpikir bahwa perusahaan mencari pegawai yang serba bisa, yang dapat diletakkan di divisi mana saja. Hingga banyak di antara mereka yang kemudian mengasah berbagai kemampuan, dalam waktu yang bersamaan, hanya untuk menjadi seseorang yang mampu melakukan pekerjaan apa saja. Nah sebetulnya pemikiran ini agak salah kaprah. Perusahaan yang baik, justru memahami kalau karyawan "sangat bisa" justru lebih baik ketimbang karyawan "serba bisa". Yap. Frasa serba bisa kelihatan hebat dan menakjubkan. Tetapi kalau memang hal tersebut dapat memajukan perusahaan, lalu untuk ada pembagian divisi? Lagipula, perusahaan-perusahaan yang sehat juga sudah punya alasan kuat, mengapa orang dengan fokus kemampuan tertentu lebih dipilih, ketimbang si "serba bisa":

1. Si "serba bisa" tidak mendalami sesuatu.

Anda boleh punya CV berlembar-lembar, dengan kemampuan beragam dan pengalaman di bidang-bidang berbeda. Tetapi jangan lupa. Tidak ada perusahaan yang punya visi "menjadi perusahaan yang bisa apa saja, ibarat toserba". Setiap perusahaan memiliki fokus bidang tertentu. Begitupun tiap divisi di perusahaan.

Misalnya, Anda melamar pada divisi desain. Bagus apabila selain menguasai desain secara utuh, Anda juga memiliki kemampuan komunikasi, marketing, dsb. Tapi jika semua kemampuan itu hanya setengah-setengah, jangan harap perusahaan mau mempertahankan Anda sepenuh hati. Kecuali perusahaan yang tidak tahu ke mana arah mereka.

2. Si serba bisa yang tidak punya visi misi

Masih soal CV. Si serba bisa datang dengan membawa riwayat diri yang begitu almighty dan lengkap. Tapi ketika ditanya akan menjadi apa dirinya lima tahun ke depan, dia akan bingung. Dia bisa menjadi humas, mungkin. Tapi juga dia bisa membuat program. Atau marketing. Apapun. Tapi kemudian dia tidak yakin, mana yang menjadi passion-nya. Atau yang benar-benar ia kuasai.

Kalau dia sendiri tidak yakin mau menjadi apa, bagaimana dia yakin mau melamar di perusahaan tersebut?

3. Si serba bisa yang hanya tahu, tetapi tidak paham.

Si serba bisa juga biasanya serba tahu. Tetapi tahu berbeda dengan paham. Dengan pemahaman, Anda dapat menangani suatu hal, dalam kondisi terburuk sekalipun. Bahkan Anda pun bisa memperbaiki suatu sistem yang kurang baik. Sedangkan kalau Anda hanya sekadar mengetahui, jangankan memperbaiki. Mempertahankan pun sulit.


Untuk itu, ketimbang Anda menghabiskan waktu berlatih segala macam hal, dan mencari pengalaman di bidang-bidang yang berbeda lebih baik jika Anda memahami apa passion Anda. Kemudian dalami passion tersebut. Karena bila kemampuan diibaratkan lubang, lubang yang dalam jauh lebih bermanfaat dan berbahaya ketimbang lubang yang banyak, bukan? Lagipula, dengan mendalami bidang tertnetu, Anda tak hanya memudahkan perusahaan, tetapi juga, memudahkan Anda sendiri dalam membangun karir ke depan.


Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe