When A Moron Tweeted Again.

12.39


Dari jaman dulu, gue udah tau kalau gue hidup di negara yang sebagian besar masyarakatnya lupa kalau mereka punya otak. Maka dari itu, mereka demen banget ngikutin pendapat pesohor. Definisi pesohor  sekarang sih, kayaknya mereka yang terkenal banget di media sosial. Seperti seorang ustadz yang demen banget nge-tweet itu. Yang rambutnya gundul. Yang kalau nge-tweet suka frontal dan bikin orang gerah. You know who i mean.

Di Twitter dan media sosial lain sih, menurut gue, kita bebas menyampaikan pendapat. Tapi kalau lo figur publik, kalau lo tau lo dikagumi banyak orang, atau kalau lo udah ngaku sebagai pemuka agama, mending jaga omongan deh. Nggak cuma masalah jaga omongan biar nggak ngumpat doang, tapi setidaknya jangan provokasi masyarakat. Masalahnya, ustadz gundul satu ini, demen banget nge-tweet hal-hal provokatif. Termasuk dalam insiden terbakarnya masjid di Tolikara beberapa waktu lalu.

Ya okelah lo ustad dan lo mau (mencitrakan diri lo) membela agama Islam. Masalahnya, kita nggak tahu persis masalah kemarin itu masalah agama, atau masalah lain yang disamarkan jadi masalah agama. Harusnya sebagai ustadz, lo menenangkan umat Muslim lain dan bukannya bikin Tweet semacam 'Saat Muslim mayoritas, mereka disudutkan dengan dalil toleransi. Namun saat minoritas, mereka ditekan dengan dalil demokrasi.

Selain penuh dengan validasi subjektif, pernyataan tadi juga bisa bikin banyak orang (tentunya kebanyakan yang berpikiran pendek dan males mikir) jadi terpancing. Makanya, nggak heran kalau sampai ada pemukulan mahasiswa Papua di Solo. Orang kita banyak yang nggak bijak. Ngakunya ngikutin jihad rasul, padahal cuma nurutin egonya sendiri. Ngaku ngebela Tuhan, padahal yang dibela cuma identitas dia sendiri.

Dan gobloknya, orang-orang yang harusnya sadar kalau suara mereka sangat berpengaruh, malah manas-manasin, dan bukan menenangkan. Serius deh, gue gak tau orang kayak gini otaknya pada ke mana. Mungkin mereka punya otak, tapi pura-pura nggak punya otak biar makin terkenal sebagai pendakwah alim. Atau mungkin otaknya digadaikan buat beli followers di Twitter?

Foto: theraphydia.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe