When It Has Been Over

15.02

Ada banyak hubungan yang tidak punya akhir bahagia..

Belum lama ini, beredar kabar mengenai perpisahan pasangan Ben Affleck-Jennifer Garner. Kabar ini tentunya mengejutkan mengingat keduanya telah bersama selama 10 tahun dan memiliki tiga anak. Namun, durasi bukanlah tolok ukur utama dari langgengnya pernikahan. Dan tidak semua pernikahan hanya berakhir dengan kematian saja.

Walaupun memang, setiap orang pasti menginginkan sekali pernikahan dalam hidupnya. Lantas menjalani sebuah rumah tangga sempurna, dengan anak-anak yang manis dan cerdas. Tetapi ada kalanya sulit menyatukan dua orang yang berbeda.

Mungkin sebelum menikah, Anda melihat dia sebagai sosok yang sempurna. Sosok yang mampu melengkapi Anda dan menjadikan hidup Anda utuh. Membayangkan bangun setiap pagi melihatnya, berjalan-jalan akhir minggu usai lima hari yang melelahkan lantaran pekerjaan, adalah hal-hal yang terpikir di benak Anda tentang pernikahan bersamanya.

Hanya saja, ketika menikah, seseorang bisa berubah. Atau, kebiasaan buruknya yang dulu masih dapat Anda tolerir, sekarang begitu menyebalkan dan mengganggu hidup Anda. Lantaran, Anda harus berhadapan dengan hal tersebut setiap hari. Dan saat sebuah masalah besar menghadang, kemudian Anda menyadari bahwa ternyata, dia bukan orang yang tepat. But it is not just ordinary break-up, di mana kata 'putus' dapat langsung mengakhiri hubungan kalian berdua. Perceraian, meskipun pahit dan rumit, merupakan satu-satunya jalan panjang yang harus Anda ambil.

Perceraian pun, bukan hal yang mudah, tak hanya secara psikologis, tetapi juga teknis. Banyak hal yang harus Anda pikirkan dan persiapkan Lantas, langkah apa saja yang harus Anda ambil, bila perceraian ternyata merupakan jalan terbaik?

1. Dengan/Tanpa Advokat
Keberadaan advokat sebetulnya tidak wajib. Namun bila Anda buta hukum, sulit berdialog di pengadilan, dan tidak tahu-menahu perihal harta gono-gini, serta hak asuh anak, menyewa pengacara cukup disarankan. Terlebih bila hubungan Anda dan pasangan kurang baik, pengacara merupakan mediator yang tepat.

Biaya yang harus dibayarkan kepada advokat bergantung pada skemanya. Ada advokat yang menggunakan skema pembayaran lump sum (pembayaran tunai) atau hourly-basis (per-jam).

2. Tata cara perceraian
Bagi yang beragama Islam, gugatan diajukan ke Pengadilan Agama. Sementarai itu, bagi yang beragama selain Islam, gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri

Gugatan di Pengadilan Negeri diajukan di Pengadilan di daerah hukum tergugat (kecuali bila tergugat sedang berada di luar negeri/tidak diketahui kediamannya). Dan gugatan di Pengadilan Agama diajukan di pengadilan tempat istri, baik statusnya penggugat maupun tergugat (kecuali bila istri berada di luar negeri/meninggalkan kediaman bersama tanpa izin suami).

Apabila keduanya berada di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan/ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat

3. Hak Asuh.

Sesuai dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam, dinyatakan bahwa anak yang belum berumur 12, tahun berada di bawah asuhan ibunya. Sementara itu, anak yang berusia di atas 12 tahun bisa memilih antara Ayah dan Ibunya. Namun nafkah dibebankan kepada Ayah.

Hanya saja, hukum itu berlaku hanya kepada mereka yang memeluk Islam. Bagi yang memeluk agama lain, keputusan bergantung pada hakim, yang melihat fakta-fakta persidangan serta bukti-bukti tertentu.

4. Harta Gono Gini
Pembagian harta gono-gini tergantung perjanjian yang telah ditetapkan sebelumnya (perjanjian pra-nikah). Namun bila keduanya tidak pernah membuat perjanjian pra-nikah, maka harta keduanya, yang diperoleh setelah perkawinan, menjadi harta bersama (Pasal 35 ayat 1 dan 2 UU Perkawinan). Harta bersama harus dibagi rata antara istri dan suami. Sementara itu, harta yang diperoleh sebelum perkawinan, tidak dibagi dua (kecuali bila ada perjanjian lain)

5. Komunikasi.
Banyak mantan pasangan yang kemudian tidak harmonis usai terjadi perceraian. Komunikasi pun terganggu, bahkan putus sama sekali. Hal ini tidak terlalu menjadi masalah bila Anda dan pasangan belum memiliki anak. Namun bila Anda dan pasangan memiliki anak, semestinya komunikasi antara Anda berdua, atau setidaknya Anda berdua kepada anak, harus tetap dijaga. Meskipun misalnya Anda mendapatkan hak asuh dan merasa mampu memenuhi kebutuhan anak sendiri, tetapi bila ia kehilangan salah satu figur dari perceraian, kebutuhan biologisnya tidak akan tercukupi. Bisa saja ia trauma, atau malah berperilaku kurang baik.

Well, Anda mungkin membenci mantan suami/istri Anda. Tetapi tak ada istilah mantan orangtua, bukan?

Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe