The Producers Remake: Teater yang Menyenangkan

23:17


Beberapa waktu terakhir ini saya mulai berpikir untuk menulis resensi film. Tapi sebetulnya, saya bukan pecinta film yang setiap minggu pergi ke bioskop. Lagipula, saya sedikit seperti IMDB: gemar memberi nilai rendah apabila film yang saya tonton logikanya meleset/punya sinematografi yang buruk. Contohnya begini: saya ingin melempar kursi saat menonton Twilight, saking banalnya cerita dalam film itu, dan betapa lemahnya karakter para tokoh.

Untuk itu, ketika saya menulis resensi, alih-alih menulis tentang film terbaru, saya akan menulis film yang saya gemari. Meskipun sepertinya tidak banyak orang yang tahu. Seperti The Producers misalnya. Sebetulnya, kalau membicarakan film tersebut, kita mesti membicarakan dua film. Yang pertama adalah versi asli yang dirilis pada tahun 1967. Dan yang kedua adalah remake yang dirilis pada tahun 2005.

Menurut penilaian para kritikus, versi terbaru The Producers tidak sebagus versi asli, yang dimainkan oleh Zero Mostel dan Gene Wilder. Namun entah mengapa saya lebih jatuh cinta pada versi terbarunya. Mungkin karena yang pertama saya tonton adalah versi terbarunya. Atau mungkin, sebagai generasi 90an, saya merasa lebih familiar dan nyaman dengan sinematografi versi terbaru.
Untuk itu, saya putuskan untuk membahas versi terbaru saja. Tapi tentu saja, di samping pemain dan sinematografi, cerita tetap sama. Berkisah tentang Max Bialystock (Nathan Lane), seorang produser teater, dan Leo Bloom (Matthew Broderick) akuntan nerdy, yang berusaha untuk membuat sebuah pertunjukkan teater sejelek mungkin, agar mereka dapat menggelapkan uang para sponsor (yang kebanyakan adalah wanita-wanita tua kaya). Mereka pun akhirnya memutuskan untuk membuat pertunjukan musikal berjudul "Spring Time For Hitler and Germany", yang bercerita tentang euforia kemenangan Jerman terhadap Prancis, dengan aktor dan aktris yang dianggap tak bertalenta, serta kostum yang seperti penari kabaret murahan.


Namun alih-alih menjadi pertunjukkan buruk, keberadaan "Gay Hitler" yang menari gemulai dengan suara cempreng di akhir cerita, justru malah disambut dengan sorakan dan pujian berbagai kritikus. Hal tersebut membuat pertunjukkan itu melambung dan membuka skandal penggelapan uang yang dilakukan oleh pasangan produser-akuntan ini. Polisi pun akhirnya menggrebek rumah mereka. Namun sebelum sempat ditangkap, Leo telah kabur bersama Ulla, asisten rumah tangga cantik (diperankan oleh Uma Thurman) ke Rio de Janeiro, dan meninggalkan Max sebagai satu-satunya tersangka.

Tetapi pada akhirnya, dalam persidangan Max Bialystock, Leo Bloom datang bersama Ulla dan mengakui kesalahannya. Keduanya pun ditahan di Penjara Sing-Sing. Namun justru di dalam penjara tersebut, mereka dapat kembali berkarya. Dengan bakat Max sebagai produser, ia membuat pertunjukkan "The Prisoner of Love" yang diperankan oleh narapidana-narapidana di sana. Seperti pertunjukkan sebelumnya, pertunjukkan ini pun laku keras.

Ruang Sempit, Berwarna, dan Musik

Apa yang kemudian menarik dari film ini? Secara subjektif, saya menyukai ruang-ruangnya yang sempit. Seperti lebih hangat dan membuat saya dapat lebih "erat" dengan karakter-karakternya. Maklum, film teater ini banyak menggunakan latar dalam ruangan, termasuk Broadway yang dibuat seperti berada dalam panggung teater penuh warna dan kelap kelip lampu.

Hal ini pun kemudian memunculkan kesan lekat dan dekat. Meski begitu, tetap membuat saya "menerima" film ini sebagai sebuah kenyataan (Willing Suspension of Disbelief). Pasalnya, sudah dari awal film ini "menegaskan" dirinya sebagai film komedi musikal, teater yang kemudian direkam menjadi film.

Tak hanya itu, tanpa perlu memperkenalkan diri, kita pun sudah paham betul watak-watak dari pemain: Max yang oportunis, Leo yang selalu gugup, dan Ulla, pelayan yang pada akhirnya menjadi istri Leo, seorang wanita yang centil dan menggoda. Semuanya seolah menampilkan jati diri sebagai pemain watak, meski harus sambil menyanyi. Pada akhirnya, menikmati The Producers, seperti layaknya menikmati permen-permen ringan rasa buah. Ya, ringan. Tak perlu berpikir berat. Cukup nikmati rangkaian adegan kocak yg diiringi lagu-lagu berlirik asyik, namun tentunya satir.

Sumber foto: IMDB

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe