Kehabisan Waktu

12.30


Beberapa waktu belakangan ini, saya menyadari kalau manusia begitu mementingkan masa depan. Untuk itu, banyak sekali program yang menawarkan jaminan masa depan. Seperti danareksa, kredit peminjaman rumah, dan tabungan berjangka. Sebenarnya hal itu tidak salah sama sekali. Bahkan menurut saya, hal tersebut perlu dilakukan karena memang seharusnya, masa depan lebih baik dari masa kini. Untuk itu, kita perlu merancangnya sebaik mungkin.

Tetapi kini, banyak manusia yang justru melenceng dari tujuan awal. Seharusnya, kita merancang masa depan agar suatu saat, kita dapat menikmati hidup tanpa beban apapun. Sayangnya, banyak orang yang justru ketagihan merancang masa depan, dan melupakan esensi menikmati hidup. Siklusnya pun akan seperti ini: menghabiskan masa kini untuk merancang masa depan, lalu ketika masa depan itu tiba, mereka habiskan untuk merancang masa yang lebih depan, dan seterusnya. Melupakan masa kini yang sedang mereka lewati.

Padahal waktu, terikat dengan ruang. Ia tidak bisa kembali setelah kita usai melewati ruang-ruang masa lalu, dan tidak bisa hadir sebelum kita melewati ruang di masa depan. Dan banyak orang yang melupakan hal tersebut. Masa depan memang akan ada, tetapi ia belum ada. Ia lebih maya ketimbang masa yang sedang kita lewati. Sangat mengerikan ketika kita menganggapnya lebih nyata, seperti orang-orang yang begitu ketakutan akan masa depan yang belum terjadi. Hal ini menurut saya lebih gila ketimbang kutukan Sisyphus, yang kemudian dinamakan absurditas oleh Camus. Kita bekerja, merancang masa depan, dan melupakan hal-hal yang bisa kita nikmati saat ini. Hingga ketika waktu untuk kita telah habis, tidak ada yang tersisa untuk dinikmati.

Saya tahu bahwa secara subjektif, kini waktu semakin terasa menyempit saja. Saya juga merasakan hal yang sama. Baru kemarin sepertinya saya merancang masa depan akan kuliah di mana, kini saya telah dihadapkan dengan rangkaian pertanyaan: mau dibawa ke mana karir saya, buku apa yang saya tulis, apa saja yang harus saya pikirkan sebelum dan setelah pernikahan? Semuanya menggantung dan menunggu untuk dijawab secepatnya. Entahlah. Mungkin karena teknologi semakin canggih dan banyak hal bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu, maka cepat habislah waktu dalam sehari. Sehari berkumpul jadi seminggu. Sebulan. Setahun. Habislah lantas satu tahun itu begitu cepat, seolah seperti waktu yang saya habiskan untuk makan cemilan.

Tapi waktu yang menyempit secara subjektif, tidak lantas dapat menjadi alasan bagi kita untuk terburu-buru mewujudkan sesuatu. Dengan dalih merancang masa depan yang lebih baik, lebih cepat. Seharusnya ada ruang yang cukup besar, untuk menikmati masa kini -masa yang dulu sempat menjadi masa depan dan kita rancang di masa lalu- . Mungkin sekadar menunggu, mencatat suasana sekitar, menikmati sepoi angin, membaca buku, meneguk kopi, atau berjalan-jalan saja, di sela-sela waktu yang kita gunakan untuk merancang masa depan. Sebelum pada akhirnya kita menyesali masa yang habis begitu saja tanpa sempat kita nikmati. Begitukah?

Foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe