Daddy Issues

19:37

Jujur saya agak melankolis kalau bersinggungan dengan sesuatu yang menyangkut Bapak. Misalnya ketika saya meliput kedatangan Velove Vexia saat membawakan makanan dan obat kepada Ayahnya yang tengah ditahan di KPK siang tadi. Saya merasa seperti kehilangan kesempatan. Kehilangan kesempatan di sini maksudnya adalah, seandainya dulu saya punya banyak waktu. Atau setidaknya, seandainya dulu saya menyadari lebih awal.

Seorang Bapak bisa menjadi koruptor. Bisa menjadi maling. Menjadi preman. Menjadi pecundang seperti apapun. Tapi di mata anaknya, dia tetaplah seorang Bapak. Ini yang mungkin baru saya sadari saat ini. Dan ketika saya menyadari, saya mungkin sudah kehabisan waktu. Saya tidak bisa lagi membawakan obat atau makanan bagi Bapak saya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Saya tidak bisa menyambanginya lagi dan berkata kalau ia sakit, saya akan sangat sedih. Yang bisa saya bawa saat ini hanyalah doa, dan mungkin bunga karangan. Itupun bila saya sudah cukup kuat melihat makam Bapak saya. Membayangkan kalau seseorang yang pernah berada di hidup kita dalam waktu lama, kini terbaring, terpisah tanah, rasanya asing. Sedih, iya, tapi kesedihan yang asing.

Dulu saya agak benci Bapak. Juga segala hal yang berkaitan dengannya. Seperti rumah sakit dan instansi tempatnya bekerja, pewayangan (yang menjadi kegemarannya), dan kereta api (transportasi yang suka kami naiki) . Tetapi belakangan saya sadar kalau saya membenci hal-hal itu karena saya rindu Bapak saya. Saya merindukannya. Saya begitu merindukannya hingga ke dalam mimpi, segala hal tentangnya berputar, berputar sampai akhirnya ia tiada. Oh, dan bahkan, beberapa hari sebelum saya menerima kabar kematiannya, saya bermimpi dia dibawa pergi kereta listrik. Wajahnya sendu sekali.

Mungkin kalau saja saya punya sekali lagi, kesempatan, saya ingin melewati hal-hal yang (dulu) saya benci itu, bersama orang yang (dulu) saya benci. Bapak. Yang biasa saya panggil Papa. Saya ingin sekali lagi naik kereta api bersamanya. Terserah mau ke mana. Barangkali nonton wayang. Apalah lakonnya. Nonton sendratari. Makan es krim Danti (restoran kesukaan kami, di Jalan Pandanaran. Kini sudah tak ada. Sama seperti Bapak saya yang sudah tidak ada). Atau kalau Bapak saya mau ke rumah sakit, saya akan antarkan.

Mungkinkah dalam kehidupan saya selanjutnya, kesempatan itu akan ada?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe