Tuhan Di Mana? Di Mana-Mana

09.23

Saya suka mencari Tuhan, di mana-mana, walaupun terkadang saya tak tahu Dia berada di mana.


Ketika kecil dulu, saya pikir Tuhan ada di atas sana. Maka dari itu, saya selalu menengadahkan kepala ke atas saat meminta sesuatu. Saya berimajinasi bahwa dia seperti sesosok wanita berkerudung poni yang tegas, raksasa, dan merangkul semua di dinia. Entahlah. Ketika orang lain berkhayal bahwa Tuhan adalah sesosok lelaki berjenggot, saya berpikir kalau Tuhan adalah wanita. Karena bagi saya, sejak dulu, wanita adalah simbol kekuatan yang lembut. Seperti Tuhan.

Tapi di sini, saya tidak akan membahas perihal gender Tuhan. Saya akan membahas perihal keberadaan Tuhan, lewat sebuah aliran bernama Panteisme. Panteisme ini tidak seperti Atheisme yang meniadakan Tuhan, tetapi ia menganggap Tuhan sebagai alam semesta sendiri. Dalam Panteisme, sifat Tuhan tidaklah personal. Tuhan adalah segala hal dalam alam semesta ini, semacam energi, fisik, nuansa, juga kesadaran. Aliran yang lahir dari buku berjudul Ethics karya Baruch Spinoza

Entahlah. Mendengar aliran tersebut, mendadak saya merasa tenang dan percaya kalau Tuhan tidak semengerikan yang saya bayangkan sejak dulu. Rasanya Dia seperti melingkupi saya dan Dia berada lebih jauh, lebih agung ketimbang batas etika dan budaya manusia yang menciptakan Tuhan-Tuhan bersifat personal (semacam Dewa Yunani dan Romawi yang bisa marah, punya kuasa absolut terhadap manusia dan mengerikan). 

Namun apakah betul seperti itu? Apakah betul kalau Tuhan sebetulnya lebih agung ketimbang Dia yang digambarkan akan marah bila kehendakNya tidak dilaksanakan? Barangkali. Mungkin saja beberapa ajaran agama kita pun juga mengajarkan Tuhan yang semacam Tuhan Panteisme itu, yang lebih spiritual dan non personal. Tetapi kita, manusia, cenderung mempersonalkan Tuhan, memudahkan dalam berpikir. Itulah kita. Menyimplifikasikan segala sesuatu agar tidak perlu proses berpikir yang dalam dan bersifat kualitatif. Padahal, makna hidup adalah mencari. Bukannya meneruskan apa yang telah dicari oleh manusia sebelumnya, dan menjalani hidup secara pragmatis

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe