Tell Him That You Love Him?

20:23

Emansipasi sih, tapi...

Sebetulnya masalah "Boleh nggak sih cewek nembak duluan" itu sudah banal dan basi. Tetapi sampai sekarang, masih banyak yang mempertanyakan hal tersebut, baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa pihak menganggap bahwa cinta adalah sesuatu yang semestinya diungkapkan, baik dari perempuan, maupun lelaki. Namun pihak lain berpendapat bahwa perempuan yang menyatakan cinta duluan, tidak sesuai dengan norma yang sudah berlaku.
Kalau saya pribadi sih, saya lebih setuju kalau perempuan sebaiknya menunggu. Bukannya kolot. Tetapi ada beberapa alasan mengapa saat mengawali sebuah hubungan, perempuan sebaiknya menjadi pihak yang pasif.

Yang pertama, lelaki dan nalurinya. Dari jaman dahulu, lelaki memang punya naluri pemburu. Tidak hanya dalam mencari makan/nafkah saja. Tetapi juga dalam mencari pasangan. Semakin sulit sesuatu untuk diburu, semakin terpacu adrenalinnya. Dan ketika ia berhasil mendapatkan "buruan" tersebut, jelas ia akan mempertahankannya mati-matian. Coba bayangkan apabila "buruan" tersebut "datang duluan" kepadanya? Pastinya dia tidak akan menganggapnya berharga. Padahal sebagai perempuan, kita ingin dipertahankan dan dihargai. 

Yang kedua, ego lelaki. Ego lelaki lebih besar ketimbang perempuan. Ketika ia bilang "belum siap berkomitmen", artinya dia betul-betul belum siap. Bagaimana jika ada perempuan yang mengajaknya berkomitmen sementara dia belum siap? Pastinya si perempuan akan terus menerus makan hati.
Yang ketika, pengorbanan. Ini masih ada korelasinya dengan yang pertama. Ketika kita betul-betul mencintai sesuatu, manusiawi jika kita akan berkorban untuk hal tersebut. Baik waktu, materi, dan tenaga. Hal tersebut juga berlaku bagi lelaki yang mencintai seorang perempuan. Dia pasti akan berkorban agar hal yang dia cintai tidak hilang. Begitupun perempuan. Saya tidak bilang bahwa perempuan tidak boleh berkorban. Tetapi melihat fisik kita yang tentunya tidak sekuat lelaki, tentunya tak sepantasnya kita berkorban lebih banyak, bukan, untuk seorang lelaki? Seharusnya, dalam konteks hubungan ya, lelaki berkorban lebih banyak. Lucu bukan, melihat perempuan yang terus menerus berkorban waktu, uang, dan tenaga untuk menyenangkan pasangannya? Sementara itu pasangannya hanya menunggu di rumah saja. 

Yang terakhir, masalah fisik. Pada pandangan pertama, biasanya lelaki jatuh cinta lantaran fisik perempuan. Fisik di sini tidak mesti ala supermodel,ya. Tapi fisik yang menarik sesuai dengan standarnya. Mungkin ada lelaki yang suka dengan perempuan chubby (seperti saya) atau malah perempuan yang kelewat kurus. Barulah setelah itu, lanjut padahal aain seperti kecocokan pandangan hidup, serta kenyamanan. Sementara itu, kita perempuan, jatuh cinta lantaran kenyamanan dan kepastian. Boleh jadi kita tidak tertarik pada fisiknya. Tetapi kalau seorang lelaki membuat kita nyaman, dan reliable bagi kita, kita bisa jatuh cinta kepadanya. Hal tersebut juga berlaku dalam hubungan seksual. Itulah sebabnya, maaf, jumlah Pekerja Seks Komersial perempuan lebih banyak ketimbang PSK lelaki (yang biasa dikenal dengan sebutan gigolo). Tidak banyak perempuan yang bisa berhubungan seksual hanya karena fisik semata, dengan orang asing pula. Maka dari itu, bila pada pandangan pertama, seorang perempuan tidak tertarik dengan fisik lelaki, tetapi bila lama-kelamaan lelaki itu ternyata reliable dan membuatnya nyaman, dia bisa jatuh cinta. Kalau lelaki? Sulit rasanya.

Nah, itu menurut saya alasan mengapa perempuan sebaiknya menunggu saja. Bukannya mau meletakkan perempuan di tingkatan gender nomor dua. Tetapi baik lelaki maupun perempuan, keduanya memiliki peran masing-masing. Jangan dipikir bahwa jadi lelaki lebih enak, lho! Karena tanggung jawab lelaki sebetulnya lebih besar ketimbang perempuan. Like
Peter Parker's uncle once said: from great power comes great responsibility. Cheers!

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe