Review Buku: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

18.01

Pernah selama bertahun-tahun, kita tak terlepaskan. Kau bilang kau selalu dapat mendengar apa yang tak kuucapkan, dan kau seperti dapat mengetahui segalanya tanpa aku banyak bicara. Kau bilang kita dapat mengirimkan sinyal-sinyal yang hanya kita saja yang tahu. Kau bilang kita barangkali adalah pasangan alien

Boleh jadi buku ini meminjam ranah astronomi -ratusan juta tahun cahaya- untuk menggambarkan apa yang terkandung di dalamnya. Namun pada dasarnya, buku ini adalah perihal keterlambatan.
Pernahkah Anda terlambat? Saya pernah. Seringkali. Dan kendati ada beberapa hal masih dapat terkejar, keterlambatan senantiasa membuat kita kehilangan waktu. Mungkin juga kesempatan. Semacam tokoh aku dalam novel ini yang terlambat menyatakan isi hati kepada kawan sepermainan sejak kecil yang ia cintai.

Entahlah. Premis semacam ini sebetulnya sudah terlampau banyak beredar di toko buku ataupun bioskop. Pasalnya, cinta yang tak terbalas menghadirkan konflik yang cenderung mudah diceritakan dan diselesaikan. Namun melalui diksi yang apik, Dewi mampu menghadirkan nuansa sendu cinta tak terbalas tokoh Aku, kepada Tuan Alien, serta keterlambatannya untuk menyampaikan, apa yang ingin ia sampaikan.

Dia, yang dipanggil oleh Aku sebagai Tuan Alien, bukan makhluk ekstraterestial yang berjarak ruang ratusan juta tahun cahaya. Namun seiring dengan kesibukan yang berbeda, kehidupan yang berbeda, jarak antara hati mereka menjadi sejauh itu. Menjalani hidup yang biasa-biasa saja, tokoh Aku masih mengingat janji Tuan Alien untuk menikahinya pada suatu hari. Memang, pada akhirnya Tuan Alien menikah. Tetapi bukan dengan tokoh Aku.

Bila diceritakan dalam paragraf singkat, cerita ini terdengar biasa saja. Namun rangkaian kata Dewi, yang dibawakam oleh tokoh Aku, betul-betul indah. Indah, bukan berarti selalu menggunakan bahasa tinggi. Kata-kata sederhana, namun tepat pada tempatnya, di sanalah kekuatan bercerita Dewi, sehingga, pembaca pun seperti dibawa masuk dalam gelombang perasaan tokoh Aku. Yang kadang naik, kadang surut, kadang datar.

Namun bukan berarti buku ini tak memiliki kekurangan. Dalam beberapa waktu, kala mengarungi lautan perasaan tokoh Aku, pembaca mungkin akan sedikit jenuh. Pasalnya, kendati buku ini merupakan surat yang dikirim tepat di depan pintu rumah Tuan Alien, tetapi banyak cerita yang lebih berkisar pada tokoh Aku. Entah penulis ingin menggaabarkan bahwa di samping cinta tokoh Aku pada Tuan Alien, ia masih bisa menjalani hidupnya sendiri  ataukah justru ingin menggambarkan suramnya hidup tokoh Aku tanpa Tuan Alien, dalam penantian yang pada akhirnya berujung pada keterlambatan.

 Tetapi pada akhirnya, usai membaca buku perdana Dewi ini, ada satu hal yang dapat kita pelajari: jangan pernah ada kata-kata yang tertinggal, dan terlambat untuk disampaikan.

Sumber foto: Goodreads

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe