Rainbow and Natural Law

15:11


Dalam buku kedua berjudul "Waktu Pesta: Pestanya Para Penulis", saya sempat menulis cerita perihal pecinta sesama jenis dalam cerpen berjudul "K". Beberapa teman pun mengira saya mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis, seperti yang pada akhirnya terjadi di Amerika Serikat beberapa hari lalu. Tetapi, mereka salah. Tidak selamanya seorang penulis menuliskan pandangan mereka. Ada kalanya penulis bersikap netral, atau mencoba menyelami sesuatu yang tidak mereka sukai.

Dan cinta sesama jenis ini, merupakan suatu hal yang tidak saya sukai. Tidak suka di sini bukan berarti benci. Tetapi hanya tidak ingin mendukung saja. Atau tidak peduli, di saat banyak orang berkampanye kalau cinta tetaplah cinta, dari manapun mereka berasal.

Saya bukan tipikal orang yang suka berkampanye, mendukung ataupun memprovokasi. Selama sesuatu atau seseorang tidak mengganggu saya, saya tidak akan peduli. Paling-paling hanya saya bahas bersama kawan satu geng atau kekasih. Maka dari itu, di saat orang-orang berkampanye tentang bahayanya cinta sesama jenis, dan melaknat hal tersebut, saya tidak peduli. Terserah apabila tetangga saya adalah sepasang gay dan mereka bercinta setiap hari. Saya tidak peduli selama mereka masih punya dinding.

Tapi kalau ditanya pendapat, mungkin begini. Saya percaya hukum alam guna menjaga keselarasan Bumi. Untuk itu, saya rasa LGBT tidak sesuai dengan hukum alam. Kalau hidup diibaratkan puzzle, vagina ya pasangannya penis. Memaksakan puzzle pada pasangan yang tidak tepat akan mengganggu keselarasan. Dan, kalau memang mereka sekadar mau diakui hak-haknya, untuk apa memaksa diadakannya institusi pernikahan?

Hanya saja, untuk menghujat, saya tidak mau. Pasalnya, semua orang punya urusannya sendiri-sendiri dan selama mereka tidak mengganggu urusan orang lain, hal tersebut tidak masalah. Namun ketika beberapa oknum LGBT mulai mempengaruhi orang lain untuk menjadi seperti mereka, atau malah memaksa senua orang untuk menerima mereka, mungkin hal tersebut yang membuat saya terganggu. Lantaran, alih-alih dirampas hak asasinya, mereka justru merampas hak asasi manusia untuk berpikir.

Kalau sudah begitu, lantas siapa yang mengganggu kebebasan siapa?

Sumber foto: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe