Budha dan Pencarian Jawaban

15.50

“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap dan mencapai keadaan tak terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan tentang hancurnya noda-noda. Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah penderitaan’, ‘Inilah asal mula penderitaan’, ‘Inilah berhentinya penderitaan’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan’; Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah noda-noda’, ‘Inilah asal mula noda-noda’, ‘Inilah berhentinya noda-noda’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya noda-noda’

Begitulah yang dulu pernah dikatakan oleh Siddharta Gautama, yang dikenal sebagai Sang Budha. Waisak yang diperingati pada hari yang lalu menbuat saya teringat akan sosoknya. Seorang pangeran yang meninggalkan dunia yang mewah dan mapan usai melihat penderitaan rakyat, untuk bertapa dan mencapai kesempurnaan.

Tentunya sudah biasa bila kita kagum akan kesederhanaan tersebut. Namun yang kemudian membuat saya merasa tertarik kepada Siddharta dan ajarannya, ialah logikanya dalam berpikir. Kepada umatnya pun, ia juga turut mengajarkan logika berpikir ini. Menjadi kritis untuk menemukan apa yang disebut kebenaran.

Bukankah pada dasarnya, manusia adalah pencari, dan dunia adalah lahan yang penuh dengan jawaban terselubung? Itulah sebabnya ajaran Budha tak pernah henti membuat saya terkagum. Selain juga perayaan Waisak yang tenang dan khidmat, saya rasa, ajaran Budha betul-betul memanusiakan manusia, mengembalikannya kepada jati diri yang seharusnya: seorang petualang yang hidup untuk belajar dan mencari jawaban.

Sumber foto: wefollowpics.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe