Like People, Foods Meet Each Other

10.14

 

Foods are adaptable, just like people.
 
Saya orang yang kaku soal makanan. Mungkin karena terbiasa makan yang "aman-aman" saja. Aman di sini bukannya masalah penyajian higienis. Tetapi masalah campuran bahan. 

Tahu makanan "tabrak-tabrakan" semacam Poulet à l'Orange (Ayam Saos Jeruk), Spaghetti Strawberry, Gudeg, Nasi Goreng Mangga, dan juga Ketan dengan mangga atau durian? Yah, padu padan makanan semacam itu sebetulnya sudah cukup banal, sih. Tapi untuk saya (dulu), buah ya buah. Nasi ya nasi. Bukannya aneh kalau mereka dicampur-campur? Plus bahan-bahan lain seperti garam, merica, lada, saos, dan santan pula. Mau jadi apa?

Hal ini paling terasa saat saya mengenal yang namanya Mango Sticky Rice, atau semacam nasi ketan dengan mangga yang disiram santan gurih. Yang satu hambar. Yang satunya lagi manis-manis kecut. Dan satunya lagi, gurih. Apalagi namanya kalau bukan makanan "konflik"? Tapi entahlah, banyak testimoni yang mengatakan bahwa Mango Sticky Rice ini sedapnya luar biasa. A very delicious detox food, they said. Hmm...

Dulu, membayangkan makan itu saja, saya tidak sanggup.

Namun pada suatu waktu, saat saya pergi ke Medan bersama Ibu, saya diajak ke sebuah restoran khas Thailand bernama Kinbei Thai Bistro, di salah satu mall terbesar Medan. Konsepnya memang restoran. Tetapi dengan slogan "Thailand Street Food", yang dijual di sana adalah makanan kaki lima à la Thailand. Seperti misalnya, Mango Sticky Rice. Yeah. Food that (i think) will make me puke.
Kalau sedang menghadapi makanan yang saya benci, saya selalu memasang wajah jengah. Ibu, yang sudah hafal betul dengan kebiasaan ini, selalu  menyindir dengan kalimat yang sama: coba dulu, sih.
Saya menggelengkan kepala dan merangkai kalimat tentang betapa menjijikkanya penampilan makanan ini: mangga warna kuning yang dipastikan manis-manis kecut, dicampur santan dan juga dilengkapi ketan yang berbahan dasar...beras? I wonder what kind of taste it has. 
 
Tapi saya punya sifat yang agak aneh. Seperti kalau saya membenci orang. Saya merasa jengah melihat wajahnya, namun saya terus-menerus tergiur mengulik informasi tentang dia (a.k.a kepo). Dalam makanan ini juga. Jujur, saya ingin juga mengicipi rasa Mango Sticky Rice ini, agar nanti saya bisa punya alasan kuat untuk membencinya, dan mengolok-olok rasanya.

Lalu dengan gerakan jengah bak mengganti popok bayi, serta senyum kecut, saya lantas mencicipi Mango Sticky Rice itu disertai pernyataan nyinyir: kita lihat seberapa banyak muntahanku karena makan makanan yang bentuknya seperti muntahan.

Dan ketika makanan itu masuk menyentuh lidah, alih-alih mual, saya malah merasa...senang.
Sambil membuang rasa gengsi yang tinggi di hadapan Ibu, saya kembali memotong bagian Mango Sticky Rice itu dan memasukkannya kembali ke mulut saya, lagi dan lagi. Ternyata enak sekali! Santan yang gurih, dicampur dengan ketan legit dan mangga yang tidak terlalu manis, betul-betul harmonis. Rasanya seperti kehidupan bermasyarakat yang multikultural, tapi bisa berpadu dengan baik.

Kalau saya bisa menganalogikan rasa itu dengan gerakan, makan Mango Sticky Rice seperti berjalan-jalan di pinggiran kota sungai semacam Venesia, dengan angin yang sepoi-sepoi. Tenang dan syahdu. Dan oh, saya tidak melebih-lebihkan. Terlebih dengan suasana restoran yang eksotis, dominasi warna hitam pada dinding serta ornamen sewarna emas. Serta tak lupa pula alunan piano menenangkan yang dipancarkan melalui speaker dari beberapa sudut restoran. Boleh jadi di luar sana suasana ramai dan penuh dengan orang-orang yang sedang hangout ataupun berbelanja. Tetapi begitu memasuki restoran ini, suasana pun berganti menjadi syahdu dan sedikit melankolis.

Sejak saat itu, saya jadi sadar, kalau bahan makanan itu seperti manusia. Meskipun berasal dari latar dan rasa yang berbeda dalam kompor dan alat masak lain, mereka  beradaptasi, mengubah dan mengembangkan rasanya sendiri, untuk kemudian bersatu dan menciptakan satu cita rasa baru yang harmonis. 

And yes, i'm now officially the new-lova of Mango Sticky Rice. Bahkan yang membuat saya makin harus memakan perkataan saya sendiri adalah: saya menghabiskan tiga porsi hingga pada malam harinya, perut saya sebah. Is that such a karma?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe