Kasus Angeline: Masyarakat dan Selera

13:17

Kalau kalian gemar mengikuti berita, pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan kasus Angeline, anak berusia 8 tahun yang ditemukan tewas di halaman belakang rumahnya. Bagi manusia paling tidak manusiawi sekalipun, kasus ini tentunya akan membuat geram. Seorang anak kecil, delapan tahun, kurus, dibunuh setelah sebelumnya diperkosa. Bagaimana bisa? Rasanya sumpah serapah pun tidak cukup untuk menggambarkan kekejian pelaku.

Tapi selain pelaku, hal lain yang membuat kesal dan geram adalah respon masyarakat. Jadi begini. Sebelum Angeline ditemukan tewas, ia dikabarkan hilang. Diculik, begitu perkiraannya. Namun saat itu, respon masyarakat tidak sebesar sekarang. Padahal penculikan, meskipun saat itu baru berupa perkiraan, bukan hal yang main-main. Menurut saya  itu lebih kejam malah, ketimbang peredaran narkoba. Kenapa? Karena dalam penculikan, ada unsur pemaksaan. Sementara itu, dalam peredaran narkoba, ada unsur jual beli. Relasi kuasa ada, tetapi bukan paksaan.

Tapi apakah masyarakat menganggap serius hal ini? Nampaknya tidak. Media pun juga saat itu tidak terlalu gencar menayangkan kasus hilangnya Angeline. Baru ketika Angeline ditemukan tewas  masyarakat berbondong-bondong geram. Menyebarluaskan tautan duka cita terhadap Angeline di dunia maya. Juga ucapan duka cita. It has been late, dear. Angeline sudah tiada. Hal tersebut juga saya rasakan dalam forum yang sering saya sambangi di Internet. Kasus Angeline yang hilang tidak terlalu banyak mendapatkan respon. Sementara itu kasus meninggalnya Angeline, sangat ramai dibahas.

Saya jadi berpikir, mungkinkah masyarakat kita berempati lantaran ketularan saja? Seperti penyakit batuk dan flu misalnya. Rasa yang mereka rasakan, dipengaruhi oleh masyarakat sekitar. Seperti pemikiran Pierre Bourdieu bahwa selera tidaklah netral. Selera seseorang dipengaruhi masyarakat yang melingkupinya.

Dan ini sama halnya dengan slogan "tolak hukuman mati" yang sebelumnya beredar, terkait Bali Nine. Saya sendiri orang yang setuju dengan hukuman mati , asal diberlakulan pada pihak yang tepat. Kalau soal Angeline ini, saya sih seratus persen mendukung hukuman mati. Kalau perlu, disiksa terlebih dahulu. Tapi masih adakah orang-orang yang berpendapat soal hukuman mati, dalam kasus Angeline ini? Adakah slogan "tuntut hukuman mati" kepada pembunuh Angeline? Kalaupun ada sih  kayaknya nggak ramai yah. Padahal ini menurut saya lebih parah ketimbang Bali Nine. Ataukah orang-orang yang dulu berkoar-koar soal "tolak hukuman mati", kini malah berubah jadi menuntut hukuman mati? Atau malah masih mengurusi Bali Nine?

Kasihan sekali kalau rasa empati pun, masih dipengaruhi oleh orang sekitar. Lalu dengan begini, apakah kita sebetulnya makhluk yang bebas? Bahkan dalam berpikir dan merasakan pun, kita tidak bisa menjadi diri sendiri.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Hukum pembunuhnya dengan seberat-beratnya, yang setimpal deh pokoknya

    http://obattraditional.com/obat-tradisional-infeksi-ginjal/

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih sudah berkunjung ke blog kami... :))

      Delete

Our Shop

Subscribe