Film SITI, Dominasi Dalam Kelumpuhan?

21.32

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menonton film berjudil SITI di Taman Ismail Marzuki. Film besutan sutradara Eddie Cahyono ini mengisahkan perjuangan seorang perempuan bernama Siti (Sekar Sari) yang bekerja sebagai penjual rempeyek di sekitar Parangtritis bersama mertuanya pada siang hari, dan menjadi pemandu karaoke di malam hari. Hal ini dia lakukan semata lantaran keluarganya yang selalu dikejar-kejar oleh rentenir, usai kecelakaan di laut menghancurkan kapal suaminya, Bagus (Ibnu Widodo), dan membuat sang suami lumpuh dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.

Hal pertama yang membuat saya jatuh cinta pada film ini ialah penggunaan warna hitam-putih dengan latar musik pembuka menggunakan alunan rebab Jawa yang menyayat. Meninggalkan kesan yang lebih dramatis. Terlebih dialog pembuka antara Siti dan Bagus, perihal laut dan Tuhan. Saya selalu suka dialog sederhana yang tak membutuhkan bahasa kelewat tinggi, namun justru filosofis.
"Mas, kowe percoyo surga?"
"Ora dek. Nanging aku percoyo karo laut."
(Mas, kamu percaya dengan surga?
Tidak, Dek. Tapi aku percaya dengan laut)

Pembicaraan semacam itu sayangnya tak lagi bisa didengar oleh Siti. Pasalnya, sejak mengetahui bahwa dia bekerja di karaoke pinggiran pantai pada malam hari, sang suami tidak mau berbicara lagi padanya. Yang setiap hari Siti lakukan adalah memandikannya, menyuapinya, sembari bercerita perihal banyak hal, mulai dari kegiatan Bagas, anak semata wayang mereka, hingga cerita mengenai rentenir yang mengejar-ngejar. Meskipun Siti tahu bahwa cerita tersebut seolah bersifat satu arah saja. 

Hal yang kemudian menjadi dilema adalah ketika Siti bertemu dengan Gatot (Haydar Saliz), seorang polisi yang turut menggrebek tempatnya bekerja. Meskipun berbeda kasta dan profesi, tetapi keduanya saling jatuh cinta. Gatot pun menjadi pengunjung karaoke yang dipandu oleh Siti. Dan pada suatu hari, Gatot meminta Siti untuk meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Terombang-ambing di antara keinginan untuk lepas dari kehidupan yang berat, dan cinta kepada suami yang telah bersama dengannya dalam waktu lama, Siti pun akhirnya memutuskan untuk jujur pada suaminya. Di mana pada akhirnya, sang suami, Bagus, mengijinkannya untuk pergi. "Lungo o Ti" ("Pergilah, Ti). Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh suaminya setelah sekian lama diam.

Merasa seolah perjuangannya selama ini tak dihargai, Siti pun pergi, usai menyerahkan sejumlah uang yang selama ini ia kumpulkan kepada mertuanya, untuk membayar hutang rentenir. Sambill memegangi perutnya yang kesakitan akibat mabuk semalaman, dia pergi menuju laut, tempat di mana dia dan Bagus dulu pernah merasa bahagia.

Peran Perempuan dan Dominasi dalam Kelumpuhan.
Siti adalah salah satu potret perempuan pekerja. Berada dalam keadaan di mana suaminya mengalami kelumpuhan, Siti harus berperan ganda: menjadi Ibu, dan juga menjadi pencari nafkah. Namun pendidikan rendah yang dia miliki memaksanya untuk mengambil jalan menjadi seorang pemandu karaoke, sebuah pekerjaan yang dalam pandangan masyarakat kita kurang etis, lantaran dekat dengan kehidupan malam seperti minuman keras, dan hubungan seksual di luar nikah.

Namun kalau dibilang bahwa suaminya mendominasi dalam kelumpuhan, saya kurang setuju. Pasalnya, Siti selalu punya pilihan. Dia tidak dipaksa untuk tinggal. Cinta dan tanggung jawab moral kepada suami dan anaklah yang mendominasi dia dan membuat kebebasannya terbatas. Relasi kuasa di sini tidaklah terjadi dari Bagus kepada Siti. Tetapi nilai moral-lah yang memiliki relasi kuasa terhadap Siti. Nilai moral tak tertulis yang menyatakan bahwa seorang istri tidak sepatutnya meninggalkan suami dan anak dalam kesusahan. 

Mengenai pilihan profesi, hal tersebut memang sulit. Bagi masyarakat Indonesia dengan pendidikan kurang tinggi, sulit menjalankan profesi yang mudah mendatangkan uang. Padahal, dalam film tersebut diceritakan bahwa Siti harus membayar hutang sebesar 5 Juta dalam waktu dekat. Diambilah kemudian jalan pintas sebagai pemandu karaoke, sebuah jalan yang membuatnya terpaksa harus "kucing-kucingan" dengan nilai moral yang menguasai dirinya.

Pada akhirnya, seperti film yang hanya memiliki dua warna, dengan rasio layar 4:3, pilihan Siti memang terbatas. Bahkan ketika dia dihadapkan pada dua pilihan sekalipun.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe