Nulis Bareng Ibu: Ma, Ajarkan Aku Tersenyum Lagi Ya?

00:16

Mama, aku minta maaf ya? Tapi aku tidak bisa minta maaf secara langsung. Pasalnya, lidahku selalu beku setiap aku akan mengakui kalau aku salah. Lagipula, aku tak suka berkata-kata secara lisan. Kata-kata yang diucapkan suatu saat akan hilang begitu saja, Ma. Terbawa angin, terbawa waktu. Jadi kenangan saja tanpa bekas.

Aku tak mau hilang tak berbekas, Ma. Mama 'kan tahu, selain mengidap Arachnophobia, Nomofobia, dan beberapa ketakutan aneh lain, aku juga mengidap Athazagoraphobia. Aku takut dilupakan, Ma. Aku ingin diingat dan masuk kurikulum pelajaran Sejarah. Aku ingin jadi nama jalan di perkantoran segitiga emas. Aku memang ambisius, Ma. Mama suka marah karena hal itu. Ini membingungkan, tetapi bagaimana ya Ma? Aku pikir kalau aku jadi hebat, aku akan bahagia, Ma.

Dulu, Ma, aku memang sependapat dengan Mama. Untuk bahagia, aku tak perlu jadi orang hebat. Dulu, bagiku kebahagiaan adalah berkumpul dengan orang terdekat. Salah satu versi nyatanya adalah lebaran. Tetapi setelah beberapa orang pergi dari hidupku (Papa meninggal, Nenek meninggal), aku merasa kosong sekali. Dari luar aku terlihat dingin, Ma. Tetapi itu kulakukan agar aku mudah melupa. Karena aku tak punya cara lain. Padahal jauh di dalam kotak kesadaranku, ada sebuah ruang kosong yang tak tahu harus kuisi dengan apa. Jadilah, aku rasa harus kuisi dengan kehidupan yang hebat dan kaya raya. Mungkin kalau aku selalu berlibur di kapal pesiar, makan foie-gras dengan ukuran kecil, aku bisa bahagia, Ma.

Tapi Mama tidak tahu, kupikir. Aku lelah, Ma, acap kali Mama bilang aku kelewat ambisius. Mama-mama lain bahkan ingin punya anak yang ambisius, Ma. Tetapi kenapa Mama tidak suka? Kenapa setiap kali aku berusaha keras Mama selalu kesal? Apakah Mama ingin aku jadi biasa-biasa saja? Aku tidak bisa bahagia, Ma dengan jadi biasa-biasa saja.

"Biasa-biasa saja itu maksudnya kayak apa?", tanya Mama. Kubilang, ya biasa saja. Ingin jadi ini itu tapi tidak bisa. Itu biasa saja, Ma. Dan Mama tanya, maksud kamu seperti miliaran orang di dunia? Kujawab, mungkin. Bisa jadi semua orang termasuk Mama. Kutekankan frasa 'termasuk Mama'. Dan Mama sangat marah. Mama bilang, Mama lelah dengan aku yang selalu tertekan, didera kecemasan, dan sok berfilsafat. "Mama memang nggak sepinter kamu, Dek. Nggak sehebat kamu. Tapi Mama kayaknya nggak pernah deh, stress hampir tiap waktu."

Sejak itu, Mama selalu malas membahas masa depan denganku. Aku merasa kecewa, tetapi aku tak punya skenario lain yang lebih baik. Kita sama dalam beberapa selera, Ma, tetapi berbeda pandangan hidup. Mama selalu bersyukur, sementara itu aku menganggap rasa syukur akan membuat kita jalan di tempat. Tidak berkembang. Padahal, kalau aku jadi hebat, Mama pasti akan kubahagiakan. Kubelikan museum Louis Vuitton dan seisinya, Ma. Kubelikan gaun Roberto Cavalli yang mahal dan kusewakan bungalow mahal di Nusa Dua. Mama 'kan juga setuju, kalau hidup tidak bakal jalan kalau kita tidak punya uang, kan? Entah kenapa Mama selalu kesal, acap kali aku berusaha (terlalu keras) untuk jadi hebat dan kaya.

Suatu saat, aku menangis. Lantaran ada beberapa hal yang tak sesuai rencanaku. Novel yang terlambat dicetak dan diterbitkan, salah satunya. Sudah aku tahu nasihat Mama soal hal ini. Mama tak akan setuju dengan kekesalanku. Karena, entah untuk keberapa kalinya, aku kelewat ambisius dan penuh tekanan. Tetapi alih-alih menasehatiku, Mama malah menunjukkan foto ketika aku masih duduk di bangku SMP. Aku akui aku benci aku saat SMP. Aku tidak hebat. Makanya kubenci.

Tetapi Mama bilang, Mama selalu bertanya kapan aku bisa tersenyum lagi seperti saat itu. Sudah, begitu saja. Lalu tidak bicara apa-apa lagi. Seperti orang lain yang sudah sangat kenal denganku, Mama mungkin tahu, lebih baik berbicara di depan perekam suara ketimbang bicara dengan aku.

Namun meskipun tak terucap, aku bawa perilaku Mama itu hingga keesokan,keesokan, dan keesokan hari, Ma. Aku rasa Mama betul. Sudah lama aku lupa bagaimana cara untuk tersenyum, Ma. Bahkan naik bianglala saja tak membuat aku tersenyum. Saat aku mengalami suatu kesenangan, aku selalu memikirkan kesibukan yang akan kujelang. Itu melelahkan. Tetapi selalu kupikir, orang yang tidak lelah, berarti tidak sedang berada di jalan untuk jadi hebat.

Hanya saja, dengan versi aku saat ini, yang menurutku jauh lebih berkualitas ketimbang aku di saat SMP, aku merasa tak bahagia. Malah, aku merasa semakin kosong. Aku merasa diikuti kesunyian di mana saja, Ma. Termasuk di antara keramaian. Rasanya begitu menyiksa, Ma. Pernah, pada suatu saat aku ingin menelan bulat-bulat diriku sendiri agar hilang. Supaya aku tak merasa tertekan dan kesepian lagi.

Aku jadi takut, Ma, semakin aku hebat, aku malah akan merasa semakin tertekan dan melupakan kebahagiaan dari hal-hal kecil. Aku takut sekarat di tempat tidur sembari menyesali waktu-waktu yang terbuang secara buruk akibat kecemasan dan ambisi berlebih. Mungkin Mama benar, selalu benar, Ma. Aku sudah lupa caranya tersenyum. Bahkan menurutku, aku yang terlalu biasa, dan Mama yang luar biasa. Mama selalu tersenyum meskipun Mama sendirian, dan meskipun Mama harus menghadapi makhluk seperti aku yang serumit labirin setiap hari, setiap waktu. Berusaha untuk membahagiakan semua orang. Mama mungkin tidak punya kapal pesiar dan hal lain yang tadinya kupikir adalah syarat untuk jadi hebat. Tetapi Mama melampaui kehebatan itu, Ma. Karena Mama tahu cara untuk bahagia, meskipun sedang dalam masalah apapun. Tidak semua orang bisa seperti itu, Ma.

Jadi, Ma, tolong terima permintaan maafku ya, Ma? Aku sangat jahat, dan sekarang inginku hanya tersenyum terus seperti Mama. Tolong ajari aku tersenyum, ya Ma? Karena sepertinya aku sudah lupa caranya.






You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe