Ketika Hidup Tak Lagi Untuk...

13.16




Ada titik di mana kita hidup tak lagi untuk diri sendiri. Entahlah kapan. Tapi untuk saya, itu terjadi di hari kemarin.

Jadi memang sudah lama nenek saya sakit. Seharusnya memang bisa disembuhkan, sayangnya nenek sudah tua, sehingga beberapa pengobatan sukar untuk dilakukan, mengingat kondisi tubuhnya. Dan kemarin, nenek saya masuk ke rumah sakit. Lagi. Waktu itu yang ada di benak saya cuma gini: sudah berdoa jungkir balik, doanya gak dikabul-kabulin. Tuhan memang cuma demen sama orang kaya. Soalnya nenek-nenek temen saya yang kaya gak disusahin segininya sama Tuhan

Tapi kala saya nyalahin Tuhan, ya saya gak akan punya pegangan lain. Terus saya harus apa? Pada saat itu akhirnya saya kembali berkaca, seperti apa saya sekarang. Oh ya, dari dulu saya orangnya memang pendendam dan sedikit ambisius. Selalu ada perkataan semacam "suatu saat harus jadi ini, biar mereka lihat kala saya.....biar bisa saya beli harga diri si ini, ini, ini.". Cuma buat apa sih? Kemarin dulu saya begitu ingin masuk universitas ini, jadi ini, jadi itu, dan setelah tercapai, lantas apa? Ya sudah. Seneng, bangga, tapi ya sudah. Akan ada perasaan kosong yang harus saya isi lagi.

Saya sejujurnya sudah capek, hidup untuk pandangan orang lain dan menyakiti orang-orang di dekat saya karena ambisi ini. Saya takut kalau saya terlalu fokus ke depan dan terlalu konsentrasi balas dendam, saya akan kehilangan momen-momen indah bersama orang-orang tercinta. Dan memang sudah banyak momen saya yang hilang. Saya capek. Saya tahu jung-ujungnya hidup ya kematian. Kehilangan orang-orang terdekat. Dan sebelum semuanya terjadi, saya cuma mau menikmati momen. Setidaknya jadi berguna untuk orang terdekat. Ngomong-ngomong, sudah capek saya mimpi jadi orang besar juga. Semua orang besar, toh ujung-ujungnya cuma tinggal sejarah di buku-buku kok.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe