Saya Mulai Jatuh Cinta Kepada Kota yang Jujur Itu

13:29



dok.pribadi

Mungkin baru setahun. Atau lebih daripada itu. Orang-orang bilang ini adalah hal yang lucu. Bagaimana mungkin jatuh cinta kepada sebuah kota semacam mangkuk salad prasmanan yang biasa kalian atur sekenanya di restoran pizza cepat saji? Segala hal bertumpuk apa adanya di sana. Hampir tanpa modalitas kesopanan.

Kota itu hampir tidak pernah tidur. Walaupun bila benar dia memang penah tidur, mungkin kita tak pernah menyadarinya. Kendaraan lalu lalang sehari semalam suntuk. Sementara mobil-mobil mewah berkeliaran, para pekerja di beberapa sudut berjalan dan bertingkah layaknya robot. Wajah mereka datar, tetapi mereka berjalan cepat seperti dikendalikan oleh remot kontrol. Saat mendengar gurauan, mereka hampir tidak bisa tertawa karena sangat lelah, atau masih mengantuk.
                                                                     
Satu-satunya hal yang membuat saya yakin betul kalau mereka bukan robot adalah karena mereka bisa marah. Mereka akan marah kalau kendaraan umum mengalami gangguan. Atau di dalamnya penuh sesak orang-orang pulang pergi. Atau beberapa orang tak tahu aturan menerobos antrean. Atau cuaca sangat panas (tetapi memang hampir tidak pernah cuaca di kota ini benar-benar dingin). Nah, robot tidak bisa marah, bukan? Sayangnya, manusia bisa tertawa dan mereka jarang (atau tidak pernah) melakukannya. Kalaupun mereka tertawa, itu hanyalah bentuk formalitas. Jadi saya bingung, mereka ini apa? Walaupun saya sendiri berpikir kalau agaknya manusia memang mesin yang berkembang.

                                                                        dok.pribadi

Saya sendiri juga mulai jadi makhluk seperti robot. Hidup bak Sisyphus dan absurditasnya. Saya juga tidak tahu mengapa saya melakukan rutinitas yang sama, setiap hari. Mengeluhkan kereta yang penuh sesak, mual ketika perjalanan pulang. Lalu tidur, bangun, dan melakukan hal yang sama lagi. Mengeluhkan kereta, bekerja, mual ketika pulang. Ulangi lima hari dalam seminggu. Kalikan empat dalam sebulan. Bila akhir minggu tiba, pergi jalan-jalan di jalanan yang padat dan membuat penat. Saya juga tidak tahu mengapa saya melakukannya. Ini belum ditambah dengan kekesalan saya akibat penjual makanan yang kurang ajar. Berbicara ketus seolah tidak memutuhkan pembeli sama sekali. Tidak punya sopan santun. Terlalu jujur seperti orang-orang yang marah di KRL. Atau teman-teman yang berani menusuk dari belakang. Atau pengemudi yang mentah-mentah menolak peminta-minta, dan peminta-minta yang buka lapak sambil bermain ponsel.

Tapi saya juga tidak tahu, kenapa agaknya saya ketagihan. Kemarin, ketika saya pulang, ke kota saya yang dulu, saya merasa asing. Keterasingan ini agaknya disebabkan oleh kesunyian dan ritme hidup yang lambat. Pernah dengar Sindrom Stolkhom? Ya, saya mulai merasa setia kepada kota yang dulu menyandera saya. Lalu saya jatuh cinta, dan mulai rindu berada di dalamnya. Saya rindu dengan rasa kantuk di pagi hari. Rindu dengan orang-orang yang seenaknya berbicara. Rindu dengan pergaulan tanpa sopan santun. Rindu berdesak-desakkan di kendaraan umum. Rindu mengumpat sekencangnya dengan kata bangsat. Rindu menertawai diri sendiri. Rindu dengan segala absurditas tersebut. Mulai ketagihan dengan segala kejujuran pahit yang ditawarkan olehnya.

Mungkin itulah alasan mengapa saya mengganti nama kota pada kartu identitas.



You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe